Ujian Semester di Rumah, Inilah empat Trik Orang Tua Menolak Secara Soft Ketika Anak Meminta Bantuan Menjawab


Trik Menolak Secara Soft 

Assalamu’alaikum, Smart Moms

Hari ini anak-anak akan mulai ujian semester dua di rumah. Bagaimana perasaan Moms semua? Apa seperti saya ya? Ada sedikit kekhawatiran, ujian tidak seperti yang diharapkan. Tidak adanya pesaing di rumah, bisa jadi membuat anak merasa longgar. Tidak serius. Lupa akan tanggung jawabnya untuk menyelesaikan ujian.

Lebih lagi, ketika anak mendapatkan soal yang menurut mereka sukar. Sanggupkah kita untuk tidak membantu menjawab? Apalagi kalau kita tidak tahan dengan rengekannya, yang berujung merajuk dan tidak mau mengerjakan soal. Anak kelihatan frustasi dan menyerah. Duh, ambyar!

Pola tidak tahan dengan rengekan anak itu bisa membubarkan role yang dibangun di sekolah selama ini. Akibatnya, ujian di rumah meninggalkan nilai minus. Anak akan berfikir, aktivitas, pembelajaran proses tidak penting, yang penting adalah nilai akhir, hasil ujian tinggi. No no no! Produknya, anak memiliki mindset, tidak apa melimpahkan tanggung jawab ke orang lain. Tidak apa berlaku tidak jujur. Akhirnya, nilai dan kesadaran moral anak terganggu. Terbiasa ambil jalan pintas. Yang penting “gue hebat” meskipun bukan hasil jerih payahnya sendiri.

Duh, jangan sampai terjadi ya? Jangan karena orang tua merasa toleran lalu mengabaikan perkembangan moral anak. Semoga, kita bisa jadikan anak-anak kita menjadi investasi di dunia dan akhirat kita. Jadi, ujian dirumah berusaha sekuat mungkin untuk tidak membantunya, inilah empat trik orang tua menolak secara soft ketika anak meminta bantuan menjawab:

Ungkapkan Peraturan Ujian Di Rumah

Anak merengek meminta tolong menjawab soal ujian bisa jadi karena di rumah longgar akan peraturan. Tunjukan peraturan dari sekolah bahwa ujian kakak tidak boleh dibantu. Meskipun ibu guru tidak tau. Tetapi Allah tidak menyukai kalau kakak tidak jujur. Ungkapkan kalau kita lebih memilih kakak jujur dan percaya dengan kemampuan diri sendiri.

Diberi Penguatan

“Bunda, nomor ini apa jawabannya?” tanya anak.
“Coba Bunda baca. Oh … ini coba kakak ingat ingat lagi! Bunda yakin kakak bisa.”
“Nanti salah, Bun!”
“Gak apa-apa, lebih baik salah untuk belajar supaya benar. Tetapi anak Bunda mandiri daripada bunda yang jawab. Nanti kakak jadi lembek. Uugh, gak mau dech Bunda.”

Smart moms, penguatan kepada anak akan membuat anak memiliki kecerdasan emosional yang luar biasa. Percaya diri dan mandiri.

Diarahkan Menggunakan Clue

Jika anak benar-benar kesulitan, berikan clue yang mengarahkan cara berfikir anak. Sekedar bentuk perhatian bahwa kita memperhatikannya. Tetapi bukan memberi tahu. Misalnya pada soal kelas dua SD berikut ini.
“Bun, salah satu langkah menggambar imajinasi adalah. . .
a.       Lemkan gambar                                        c. hias dengan biji- bijian
b.      Buatlah sketsa gambar
Jawabannya A kan, Bun!”
“Ketika kakak menggambar, apa menggunakan lem?”
“Oh, iya Bun. Kakak lupa.”
Begitulah berikan clue yang membuat anak merasa tidak terkesan sendiri dalam kebingungan.

Memberikan Reward

Wah, senangnya jika anak dapat mengerjakan soal ujian dengan baik. Tanpa rengekan. Tanpa drama. Tanpa dibantu orang tua untuk menjawab. Artinya orang tua sudah berhasil melatih anak mempunyai kesadaran untuk bertanggung jawab terhadap tugasnya. Sudah tercapai untuk mewujudkan sifat mandiri anak. Sudah tercapai untuk mengembangkan karakter baik yaitu bersifat jujur. Saatnya berikanlah reward ke mereka. Peluk mereka. Ungkapkan kalau kita bangga punya mereka. Dan berikan reward atau penghargaan ketika mereka selesai mengerjakan ujian. Misalnya memberikan es cream atau makanan kesekuaannya.

Jadi, pada hakikatnya tertib dan tidak tertibnya ujian di rumah tergantung pada orang tua. Bersih dan tidak bersih juga tergantung orang tua. Salah memberi bantuan akan jadi masalah akhirnya.

Ya, Allah, ya Rahman ya Rahim, jadikanlah kami ayah dan ibu yang baik buat anak keturunan kami. Jadikanlah kami ini guru yang baik buat anak murid kami. Dan jadikanlah anak anak kami anak-anak yang baik buat kami. Ya Allah, ya Rahman ya Rahim, jadikanlah kami dan anak-anak kami hamba-Mu yang baik. Ust. Yusuf Mansyur




Halaman Sekolah
Linda Puspita di Halaman Sekolah mencoba belajar dan berbagi, mengasah bakat dan berkomitmen untuk selalu produktif dalam menulis. Blogger, Freelance Writer and Teacher at SDN no. 81 Muara Bungo.

Related Posts

57 comments

  1. Iya mba, aku merasakan bagaimana mengawasi anak ujian di rumah. Alhamdulillah mereka sportif gak minta bantuan. Jadi senang ketika mereka bisa bertindak jujur dan amanah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya mbak. Memang rasa luar biasa ketika lihat anak-anak bertindak jujur dan amanah.

      Delete
  2. Bagaimana dengan soal-soal sulit tingkat SMA bu, yang orang tua sering juga tidak memahami jawabannya sehingga anak-anak akhirnya bekerja sama dengan kawan-kawan kelasnya menggunakan whatsup? Sedihnya orang tua tahu tapi apa mau dikata, yang penting anaknya usaha dan bisa lulus 😔

    ReplyDelete
    Replies
    1. Barangkali bisa dipertegas peraturannya pak. pahamkan ke anak bahwa kita sebagai guru lebih melihat proses bukan hasilnya. kita menghargai proses, meski hasil salah. Kita bisa dengan mudah mendeteksi apakah anak saling kerja sama dari jawaban yang mereka buat. Itu kalau pertanyaan essai, kalau untuk multiple choice memang susah ya pak mendeteksinya. Untuk orang tua, memang apa yang mau dikata ya pak. Malah ada yang maksa ingin bantu .... yang terpenting kita sudah sampaikan. Kalau hasilnya diluar keinginan kita. Kembali lagi, kita hanya penyampai (sudah lepas tanggung jawab kita), kita do'akan yang terbaik untuk anak-anak didik kita.

      Delete
  3. Ga cuma marketing, untuk komunikasi ke anak memang kita butuh "copywriting" yg tepat ya.. copywriting ini malah lebih penting lagi krn bakal membentuk anak kita nantinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kak, apalagi anak zaman sekarang. Kalau dulu orang tua melirik dan berdehem aja anak sudah paham maksudnya. dan takut. anak sekarang ....

      Delete
  4. Wah sudah mulai ujian ya. Anak sy masih mau TK sih, belum ada ujian. Semoga kelak bisa menanamkan nilai lebih baik jujur meskipun hasilnya kurang memuaskan. Asal hasil kerja sendiri. Yang dinilai prosesnya bukan hasilnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga anandanya jadi anak sholeh atau sholehah ya mbak.

      Delete
  5. Belum rasain anak ujian sih hihi soalnya masih usia 16 bulan. Saved dlu tulisannya biar nanti bisa dibaca lagi hehe. Thanks for sharing mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama sama mbak, Semoga si kecil jadi anak sholeh mbak Jihan.

      Delete
  6. tulisan ini seakan menampar saya. Soalnya saya gak telaten dan langsung bantu menjawab pertanyaan anak. Harusnya gak boleh ya. Biar anak mandiri. thanks bund, emaknya harus belajar juga nih. belajar untuk menahan diri gak bantuin anak. hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe. Ada rasa khawatir ya mbak lihatin anak ujian. Gemes aja mau bantu.

      Delete
  7. sebagai pengajar sy kurang setuju nih ujian online krna kejujuran siswa tdk bisa kita lihat..tp dng situasi begini emang agak susah ya..klo sy mengajar tingkat mhsiswa lbh senang ujian dng mereka melakukan presentasi langsung via online jd lbh terlihat ada usahanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya mbak. Memang diinstruksikan kalau di sini untuk ujian di rumah saja. Hihihi.

      Delete
  8. Dalam keadaan seperti ini emang kadang agak susah ya bun, jadi ibu sekaligus guru di rumah. Tips yang bermanfaat banget tuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mbak, tetap semangat ya untuk jadi orang tua sekaligus guru di sekolah.

      Delete
  9. tips tips nya nendang banget. kebanyakan orangtua males dan marah2 bila ditanya tanya gini. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe. Pandemi mengajarkan kita untuk banyak bersabar ya mas.

      Delete
  10. butuh kesabaran yg luar biasa untuk menjadi orang tua saat pandemi covid ini karena sya mengerti mempunya kakak sepupu yg dimana anaknya rewel banget gak mau kerjain soal apalagi suka nangis jika di paksa

    ReplyDelete
  11. Walaupun mamak geram kasih tahu jawaban yg benar, tapi anak sedini mungkin harus diajarkan jujur. Cukup mamaknya aja dulu zaman baheula yg pernah nyontek di kelas #pengalamanpribadi pernah nyontek ujian Matematika. Semua pengalaman buruk kita tentu menjadi pelajaran dan jangan sampai hal sama dilakukan juga sama anak. Semangattttt.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi. hidup emak perubahan. untuk generasi lebih baik.

      Delete
  12. Anakku yang kelas 5 enggak ada UKK...Jadi diganti tugas aja.
    Yang kelas 9 ada ujian sekolah, dan aku melipir enggak mau ikutan ngerjain, karena online di laptop dan dia malah marah waktu aku ada di dekat situ, karena ganggu katanya hahaha
    Kejujuran mesti diajarkan sejak dini.

    ReplyDelete
  13. ini sebenarnya yang penting ya memberikan clue jawaban, bukan langsung jawabanya biar anak juga belajar, bukan ortu yang mengerjakan

    ReplyDelete
  14. Anak saya belum sekolah, tapi artikel ini bermanfaat jadi bekal nanti kalau anak sudah memasuki usia sekolah. Kalau saya kecil dulu, biasanya ada PR hanya dibantu diberikan contoh aja sama ortu, selebihnya kerjakan sendiri baru nanti dikoreksi lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, teknis yang diajarkan orang tua dulu patut dicontoh juga ya.

      Delete
  15. Orang tua memang sahrusnya begitu. Harus pula ditanamkan, untuk apa nilai bagus tapi nda tahu apa-apa. Mendingan belajar dengan giat tak perlu pikirkan nilainya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, semangat ya kak kita menjadi orang tua.

      Delete
  16. hihihi .. benar2 smart deh, caranya. alhamdulillah anak2 langsung tahu sih kalau ujian nggak nanya2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, senang ya kak lihat anak anak mandiri.

      Delete
  17. Nah betul, salah satu cara agar ada ketertarikan anak untuk belajar tanpa bantuan orang tua yakni dengan memberikan reward. Cara itu memang ampuh

    ReplyDelete
  18. terima kasih alternatif solusinya bu guru, bener bgt nih bisa jadi celah anak2 ngerengek minta jawaban ke bunda2 di rumah pas PAT ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama sama mamah. Terimakasih sudah berkunjung ya.

      Delete
  19. Hmmm kl semua oraang tua punya kesadaran begitu aku ikut bahagia mbak. Lah kmrin tugas mengerjakan soal di LKS malah ada yg ketahuan kl itu tulisan emaknya. Soalnya aku paham bner sm tulisan si anak :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaaha. ya ampun kak. Aku sebelum ujian di group wa kusodorin artikel ini. Alhamdulillah pada paham.

      Delete
  20. Ini memang menjadi tantangan tersendiri y Mbak, namun sebagai orang tua yang bijak saya setuju dengan tips dari Mb: menolak halus
    Semoga anak-anak kita semua jadi anak yg jujur dalam kondisi apa pun aamiin

    ReplyDelete
  21. Aamiin ya Allah. Semoga jadi anak sholeh dan sholehah ya kak anandanya.

    ReplyDelete
  22. terima kasih artikelnya mba, sangat bermanfaat, aku kemarin bantuin keponakan yang masih SD ada ujian, dia kebingungan dan selalu nanya jawabannya terus kutanya ada bukunya ga dibaca lagi jangan langsung minta jawaban terus, kata dia ga ada bukunya dan belum diajarkan, saya jadi bingung sendiri, nanya ke temen2nya juga sama, akhirnya saya bikin karangan tulisan terus dia suruh baca, dan dia bisa mencari jawabannya dari tulisan karangan saya, kalau ga diginiian dia akan terus minta jawaban langsung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, itu barangkali buku yang tersedia di sekolah tidak cukup untuk dibagikan. Jadi anak-anak belum belajar sendiri.

      Delete
  23. Setuju, mbak. Alhamdulilah, aku gak seperti bunda lain di kelas anakku yg sering heboh dgn nilai anak-anaknya qiqiii..
    Anakku gak suka matematika, lebih suka gambar & bikin komik. Jadi aku pun gak memaksa nilai matematikanya harus bagus. Yg penting di atas minimal aja.
    Jadi pas ujian di rumah juga dia yg kerjain sendiri. Apa pun hasilnya, yg penting anak kita sudah berusaha.

    ReplyDelete
  24. Hahaha, anakku sebaliknya. Sama sekali enggak Minta bantuan, dia bilang dosa kalau ujian dikasih tahu orangtua. Jujur, bangga benar dg anakku, dia sdh bisa membedakan mana yg baik dan benar.

    ReplyDelete
  25. Amin. Iya ya Mbak....terkadang anak-anak itu malas baca buku. Kalau ananda saya minta baca buku dulu lalu jawab peranyaan, banyak yang salah siih, gpp wes.

    ReplyDelete
  26. nah iya mbak, suasana belajar di rumah tuh memang beda dengan di sekolah. selama SFH, anak-anak kadang lupa bahwa mereka tetap harus belajar walaupun lokasinya di rumah. ketegasan orang tua tetap harus diterapkan karena biasanya suka jadi gak tegaan hehehehe

    ReplyDelete
  27. hari ini anak sy sudah pembagian rapot. Alhamdulillahnya, ujian di rumah kemarin juga aman lancar jaya...hihi. Malah rasanya cepet banget anak-anak ngerjainnya. Kebanyakan wali murid yang curhat sih bilang gemas kalau anaknya jawab salah...kalau saya malah nggak sempat lihat anak jawab apa soalnya dia buru-buru banget cepet dikirim sendiri :D

    ReplyDelete
  28. Ketika adek ujian dirumah, aku sebagai kakak gemash. Hahaha. Gimana gak. Ujian tapi masih sempat sempatnya sambil bermain. Bersyukur lah ketika Raport diterima jadi Aman. paling tidak dia tahu dan faham situasi agar tidak bosan tetap melakukan tanggung jawabnya. Hahahaa.

    ReplyDelete
  29. Setuju Uni Linda... soalnya miris liat ortu zaman now malah dia yg ngerjain jawaban ujian anak2 huhuu... sy tau krn sesama wali murid malah banggain bs jawab ujian anaknya

    ReplyDelete
  30. Anak gadis keduaku yang mengalami ujian online mbak, dia sih ngga pernah tanya jawaban apapun sama aku, mengerjakan sendiri :D

    ReplyDelete
  31. Aku belum ngalamin nih mbak. Tapi banyak temen-temenku yang pada heboh anaknya ujian. Ujian offline aja udah bikin pusing. Sekarang malah online. Tantangan meningkat sodara-sodara. Salut buat para ortu yang berhasil melalui ini semua.

    ReplyDelete
  32. Untuk anak SMP saya lepas banget dan tenang aja. Untuk anak SD kelas 1 rada susah utk meninggalkan. Ada aja yang ditanya walau saya pun berusaha tidak langsung menjawab.

    ReplyDelete
  33. Ibu... Inspiratif sekali. Semoga si anak mengerti dan dapat belajar lebih giat lagi :)

    ReplyDelete
  34. Bagus juga tipsnya, Mbak. Anakku belum
    ujian sekolah, baru paud tapi artikelnya oke, nih. Trims sharingnya, meski ujian di rumah, bukan berarti bisa nanya ke ortu, ya.

    ReplyDelete
  35. Yups. Aku termasuk pegang prinsip, ujian ya ujian. Meski di rumah, kondisi ujian ya kerjakan sendiri sesuai kemampuan. Anak2 juga begitu. Tips di atas juga saya praktikkan. Meski nilainya gak semua 100, tapi biar mrk bangga dg hasil sendiri. Entah ortu yg lain.

    ReplyDelete
  36. Tentu sebagai orang tua harus menanamkan nilai nilai kejujuran walau dirumah sekalipun.

    Karena jika mereka dibantu saat ujian, mereka lama kelamaan akan terbiasa tuk tidak jujur pada diri sendiri.
    meskipun mungkin nilai yang didapat tidak bagus, jika di peroleh dengan kerja keras selama belajar tentu akan memuaskan

    ReplyDelete
  37. Bukan berarti nggak kasihan ya mbak tetapi lebih kemandiriannya just try the first

    ReplyDelete

Post a Comment