Bukan Layang-layang Putus (Sebuah Prosais)


"Bibirmu semanis madu", katamu. "Bergetar, lantunkan qalam Rabbmu. Sepadan merah warna jambu. Memadu jilbab dan akhlakmu.”  Ah aku suka rayuanmu.

Lalu kita berbulan madu. Kesibukan, setelah ijab qabul kita berguru. Aku menjadi wanita paling sempurna. Berhias di singgasana. Harta, jabatan dan rupa. Tak sanksi juga soal Agama.

"Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, tapi ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui. Sedangkan kamu tidak mengetahui,” Kata Rabbku.

Ya! Aku belajar paham. Baik awal, tidak selalu akhir. Istikharah cinta, tak dulu terpikir. Sudah empat mempunyai buah hati. Kau bilang ini malam terakhir. Dengan lembar terbaring kaku. Bentuk frontalku, tak mau dimadu.

Bukan layang-layang putus. Terombang-ambing, tercabik-cabik oleh angin. Aku akan kokoh, sekokoh pohon jati, rindang memberi perlindungan pada hati anak-anak yang kau beri.
Halaman Sekolah
Linda Puspita di Halaman Sekolah mencoba belajar dan berbagi, mengasah bakat dan berkomitmen untuk selalu produktif dalam menulis. Blogger, Freelance Writer and Teacher.

Related Posts

Post a Comment