Titip Doa Pada Hujan



Angin bertiup membawa berita akan turunnya hasil evaporasi
Pergerakan udara yang lembut menyentuh kulitku
Membawa kesejukan seperti mendapat pesan singkat ini

[Hujan berderap, merawankan hati, tetapi siapa sangka ia tak bisa diubah menjadi irama yang menentramkan, lalu terhampar mengulurkan bait doa. Semoga hati senantiasa diatas jalanNya. Maklumlah zaman sudah petang, kesabaran acap kali terancam. Tiada banyak harapan selain dikumpulkan bersama sahabat seiman di taman keabadian.]

Seperti pesan singkat ini, lalu aku tidak lagi fobia berbagi doa untuk sahabat. Semoga nasehat meresap di jiwa. Maklum, zaman semakin senja. Sepertinya waktu pulang kita akan segera tiba. Kutitipkan kagum kagum pada sahabat salaf, semoga tetap istiqomah dan menjadi cendikia Agamis. Rangkul aku dalam doa, agar kelak bersama-sama.

Seperti gemuruh Guntur dan kilatan, ria bersenandung dalam relung hati. Seolah aku yang bisa berbuat seperti ini. Halah! Siapa aku? Tanpa doamu wahai sahabat nan jauh dan dekat.

Hujan telah reda. Secarik pelangi muncul ke permukaan. Keluarlah! Saksikanlah! Dan nikmati warnanya. Seperti itulah indahnya dunia wahai sahabat. Ketika saling mendoakan dan mencintai pada satu fiqroh Sunnah Nabi.

Repost, Muara Bungo dengan dingin yang menggigil
Halamansekolah.online
Tempat belajar, berbagi, mengasah bakat dan berkomitmen untuk selalu produktif dalam menulis. Blogger, Content Writer and Teacher.

Related Posts

4 comments

  1. Aku pun bukan apa-apa tanpamu. Eaa.. Anyway, bagus tulisannya kak. Thanks

    ReplyDelete
  2. Hujan, waktu mustajab berdo'a
    BTW typo Exaporasi seharusnya Evaporasi

    ReplyDelete

Post a Comment