Sri, Penjual Daster

24 comments

Sri seorang ibu beranak dua. Dia penjual daster. Pekerjaan ini ditekuni untuk membantu perekonomian keluarga, suaminya hanya seorang buruh panggul batu-bata. 100 batu-bata dihargai seribu. Seharinya dia bisa memindahkan 4.000 batu-bata. Artinya sekitar 40. 000 penghasilannya sehari. 

Seperti biasa, Sri terlihat menyandang tas besar, berisi daster yang siap dijual. Sementara tangan kanannya menjinjing setumpuk daster dengan corak yang berbeda. Dia mulai berjalan menelusuri lorong-lorong dengan jalan berdebu. Wajah yang dialiri keringat itu, tetap berusaha tersenyum ramah kepada ibu-ibu yang ditemui di jalanan.

“Dasternya, Bu?” bujuknya.

“Ndak, Bu! Maaf, lagi tidak ada uang.”

“Uang tidak berbunyi kok, Bu! Lihat-lihat dulu juga boleh!” yang ditawari hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Corak-corak daster yang dibawa Sri sebenarnya sangat menggiurkan, tetapi ibu-ibu lebih menahan diri mengingat uang yang dipegang hanya cukup membeli cabe, beras, minyak dan sedikit ikan teri. 

Tibalah kakinya melangkah di depan gerbang sekolah besar. Gerbang itu tertutup. Celingukan, ragu hendak masuk. Pasti banyak guru yang mengajar disini, barangkali ada yang berminat dengan dasternya. Pak satpam menegurnya, menanyakan maksud kedatangannya. Dia pandangi Sri, jadi teringat dengan istrinya yang berjualan susu yoghout. Ah, kalau dia menolong orang lain, di bumi Allah yang lain pasto orang lain juga dengan mudah menolong istrinya. 

###

Kantor guru seketika berubah menjadi lapak. Waktu itu jam istirahat, beruntung Sri dapat menjajakan dagangannya.

“Pas ndak, Bu Haji?” Bu Vina mencoba daster berwarna merah marun, berputar lalu mengedip-ngedipkan matanya.

“Kamu, apa saja yang kamu pake tetap pas, cantik!” jawab bu Haji. Vina tersenyum. Lalu dicobanya lagi daster motif bunga berukuran besar. Merasa tertarik, dia ambil satu lagi daster yang bercelana. 

“Bahannya adem ini, bagus!” kata bu Fitrah, meskipun dia teringat daster yang dirumah masih ada yang belum dibuka dari plastiknya. Diapun ikut menyisihkan dua stel daster. 

Hampir semua guru berebut mencoba daster yang Sri bawa. Sebentar saja, daster yang didalam tas berpindah tangan. Hanya tiga orang guru yang kelihatan tidak tertarik. Pertama bu Siska seorang guru honorer. Kedua bu Wita yang ibunya juga mempunyai toko pakaian. Ketiga pak guru biologi.

Sri senyum bahagia, berusaha memuji bahan dasternya yang memang bagus. 

“60.000,- itu, Bu!”

“Kalau tiga berapa?” Tanya bu Vina

“Bolehlah, 150.000,- Bu!” Sri semangat mengeluarkan kantong plastik. 

Bu Siska mendengar itu. 50.000,- satu stel. Itu sangat murah. Seandainya dia memegang uang, ingin membeli satu. Daster di rumahnya sudah terasa lusuh, bunga di kantongnya saja sudah luruh. Tetapi apa mau dikata gajian masih tiga bulan lagi lamanya. 

“Boleh kredit?” Tanya bu Leni

“Maaf, Bu! Tidak bisa, modalnya kecil.” Jawab Sri dengan tersenyum.

Bu Leni, merasa tidak tertarik lagi, diletakkannya daster yang sudah menjadi cem-ceman dari tadi. 

“Di pasar, tiga seratus ribu, Vina.” Bisik bu Leni. “Tawar!” katanya sambil mencubit pinggang bu Vina lalu berlalu keluar kantor.

“Seratus tiga ya!”

“Ndak dapat, Bu!” itu sudah murah, yang seratus tiga itu bahannya lain. Kasar.” Kata Sri mulai bersemangat.

“Seratus tiga lah, ini banyak yang ambil!”

“Paling pas satu 45.000, Bu! Dari pada ndak jadi. Itu saja, saya ambil untung Cuma 3.000 per potong.”

Bu Haji menggedip-ngedipkan mata, lalu mundur teratur. Bu Vina tetap bersikeras dengan tawarannya. Guru-guru yang lain bersifat sama. Sri mulai gerimis, hatinya dongkol. Ibu-ibu cantik, berduit nawarnya membuat hati sakit. Di lorong yang berdebu saja , mereka masih punya rasa dalam menawar dagangan yang ia punya. Dari pada rugi, berlahan ia mulai mengemasi. Dengan dada sesak, matanya mulai memerah. Sedih dan iba seiring bel masuk kelas berbunyi, para gurupun bubar tidak jadi beli.

Melihat Sri memunguti dagangannya, di kursi, di meja, di lantai, ibu Wita merasa iba. Lalu ia ambil daster berwarna unggu, memberi selembar uang berwarna biru, lalu masuk kelas buru-buru. Pak Thohir, yang semula tidak tertarik akhirnya mengambil daster mungil, katanya untuk anak kesayangannya. Sementara, bu Siska meski hatinya iba tidak dapat berbuat apa-apa. Ingin ikutan membeli tidak punya uang. Ingin membantu Sri, ia teringat punya kelas. Akhirnya ia tinggalkan Sri sendiri, mengemasi dasternya. Terselip do’a semoga Allah lancarkan rejeki mu ya, Bu!



Halaman Sekolah
Linda Puspita di Halaman Sekolah mencoba belajar dan berbagi, mengasah bakat dan berkomitmen untuk selalu produktif dalam menulis. Blogger, Freelance Writer and Teacher.

Related Posts

24 comments

  1. Sedih aku bacanya, mbak. Artinya tulisan mba Linda mampu menggerakkan emosi pembaca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih, sama-sam berproses kita di Odop mbak ya

      Delete
  2. Bagus banget tulisannya mba, aku sedih jadi ikut membayangi

    ReplyDelete
  3. Keren Mbak. Jadi terharu baca tulisannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. tema-tema ringan kayaknya asyik diangkat ya mbak

      Delete
  4. Bagus sekali,..berhasil menarik emosinya pembaca

    ReplyDelete
  5. Pembelajaran luar biasa. keren kak.

    ReplyDelete
  6. Replies
    1. Aduh, malu aku pak. By the way, terimakasih pak sudah mampir

      Delete
  7. Bagus banget tulisannya. Penuturannya lancar, konfliknya pas nyata dan ya enak dibaca. Baiknya kata cem-ceman dicetak miring dan diberi penjelasan.
    TOP MARKOTOOOP

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasuh, cus diedit! terimakasih koreksinya mbak

      Delete
  8. so real banget ya mbak linda. memang tipe orang yang dijabarin dengan kelakukan guru-guru itu ada. yang cuma lihat doang, yang nawar doang dan akhirnya ada yang beraksi yang tdinya ga mau beli ya

    ReplyDelete

Post a Comment